Masjidil Haram merupakan tempat yang sangat istimewa bagi umat Islam. Di sinilah Ka’bah berada dan menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia. Jutaan jemaah datang setiap tahun untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah.
Namun, selain mempersiapkan fisik dan perlengkapan, memahami adab di Masjidil Haram juga sangat penting.
Di musim ramai, Masjidil Haram dipenuhi jemaah dari berbagai negara dengan bahasa, budaya, dan kebiasaan yang berbeda. Karena itu, kesabaran dan kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dari ibadah.
Lalu, apa saja adab di Masjidil Haram yang perlu diperhatikan?
1. Belajar Bersabar dari Kisah Seorang Badui
Ada sebuah kisah pada zaman Rasulullah SAW tentang seorang badui yang buang air kecil di dalam masjid karena belum memahami adabnya.
Para sahabat tentu ingin segera menghentikannya. Namun, Rasulullah SAW justru meminta mereka membiarkannya menyelesaikan hajat tersebut. Setelah itu, bagian yang terkena najis dibersihkan dengan air.
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan dengan lembut bahwa masjid merupakan tempat untuk berzikir, shalat, dan membaca Al-Qur’an.
Kisah ini mengajarkan bahwa kesalahan tidak selalu harus dihadapi dengan kemarahan.
Di Masjidil Haram, kita akan bertemu jemaah dari berbagai latar belakang. Ada yang mungkin tidak sengaja menyenggol, menyerobot jalan, atau melakukan sesuatu yang kurang tepat.
Tetap sabar dan jangan biarkan emosi mengganggu ibadah.
2. Adab Tawaf: Jangan Mendorong
Tawaf menjadi salah satu momen paling mengharukan dalam ibadah umrah. Namun, kondisi di sekitar Ka’bah bisa sangat padat.
Karena itu, jangan menjadikan tawaf seperti perlombaan.
Hormati jemaah lain
Ikuti arus tawaf dengan tenang. Jangan mendorong atau memaksa masuk ke celah yang sempit.
Jika tidak sengaja menyenggol jemaah lain, jangan ragu untuk meminta maaf.
Jangan memaksakan diri mencium Hajar Aswad
Mencium Hajar Aswad merupakan sunnah. Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita menyakiti orang lain.
Jika kondisi terlalu padat, cukup lakukan isyarat dari tempat yang memungkinkan sambil mengucapkan:
“Bismillahi Allahu Akbar.”
Ibadah bukan tentang siapa yang paling dekat, tetapi bagaimana kita menjalankannya dengan tertib dan penuh kesabaran.
Kurangi aktivitas yang mengganggu
Saat tawaf, fokuskan diri pada ibadah. Hindari berbicara berlebihan atau sibuk membuat konten hingga mengganggu jemaah lain.
3. Etika di Maqam Ibrahim dan Multazam
Setelah tawaf, banyak jemaah ingin melaksanakan shalat sunnah dan berdoa di tempat-tempat tertentu seperti sekitar Maqam Ibrahim dan Multazam.
Karena banyak jemaah memiliki tujuan yang sama, kita perlu belajar berbagi ruang.
Jangan berhenti mendadak di jalur jemaah.
Jika ingin shalat atau berdoa, carilah area yang tidak mengganggu arus orang yang sedang berjalan.
Begitu pula ketika berada di Multazam. Gunakan kesempatan untuk berdoa dengan khusyuk, tetapi jangan terlalu lama hingga jemaah lain tidak mendapatkan kesempatan.
4. Jangan Sampai Drama Sandal Hilang
Masjidil Haram sangat luas. Banyaknya pintu dan area masjid terkadang membuat jemaah lupa dari mana mereka masuk.
Agar tidak mengalami drama mencari sandal, simpan sandal dengan aman dan catat nomor atau nama pintu yang digunakan.
Perhatikan juga landmark di sekitar pintu masuk.
Jangan sampai ibadah selesai dengan hati tenang, tetapi berubah panik karena lupa jalan pulang.
5. Jaga Kebersihan Masjidil Haram
Masjidil Haram bukan tempat untuk piknik.
Bawa barang seperlunya dan tetap perhatikan aturan yang berlaku mengenai makanan dan minuman.
Jangan meninggalkan botol plastik, tisu, atau bungkus makanan di area masjid. Gunakan tempat sampah yang telah disediakan.
Menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas. Kita sebagai jemaah juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.
6. Jaga Suara dan Ponsel
Jutaan jemaah datang untuk beribadah. Ada yang membaca Al-Qur’an, berzikir, shalat, dan berdoa.
Karena itu, jagalah suara.
Sebelum masuk ke masjid, aktifkan mode silent atau getar pada ponsel. Jangan sampai suasana khusyuk terganggu oleh nada dering yang tiba-tiba berbunyi.
Jika perlu berbicara dengan rombongan atau membantu anggota keluarga, gunakan suara secukupnya.
Suara yang menurut kita biasa saja bisa menjadi gangguan bagi jemaah lain.
Kesimpulan
Memahami adab di Masjidil Haram bukan hanya tentang mengetahui aturan. Lebih dari itu, adab adalah cara kita menjaga sikap kepada Allah SWT dan kepada sesama jemaah.
Jaga ketertiban saat tawaf, jangan mendorong, hormati ruang orang lain, jaga kebersihan, dan perhatikan suara serta penggunaan ponsel.
Jika bertemu jemaah yang melakukan kesalahan, hadapi dengan sabar dan cara yang baik.
Kita semua datang ke Tanah Suci dengan tujuan yang sama: beribadah dan mencari ridha Allah SWT.
Jaga adabnya, jaga kesabarannya, dan jaga hati selama berada di Tanah Suci.
Semoga Allah SWT memudahkan langkah kita menuju Baitullah dan menerima seluruh ibadah kita sebagai ibadah yang mabrur.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin.