Site icon Promo Umroh An-Namiroh Travelindo 23,5 JT TERBATAS

Mengenal Lebih Dekat Keutamaan dan Sejarah Masjid Nabawi (Serta Drama Sandal Hilang di Depan Pintu)

Jika ada satu tempat di muka bumi ini yang bisa membuat miliaran orang rela menabung bertahun-tahun, antre visa berbulan-bulan, dan menahan pegal di pesawat belasan jam hanya untuk sekadar numpang shalat dan menangis rindu, tempat itu adalah Masjid Nabawi di Madinah.

Masjid ini bukan sekadar bangunan ber-AC dingin dengan payung raksasa yang bisa buka-tutup seperti robot Transformers. Ini adalah jantung dari sejarah Islam. Ini adalah tempat di mana peradaban besar dimulai dari sebuah tanah lapang yang awalnya cuma berisi pohon kurma dan ilalang. Mari kita tarik napas sejenak, siapkan secangkir kopi atau teh hangat, dan kita time-travel sejauh 1.400 tahun ke belakang untuk mengenal lebih dekat keutamaan, sejarah, serta kisah-kisah behind the scene dari Masjid Nabawi yang mungkin belum pernah Anda dengar di buku sejarah sekolahan.

1. Plot Twist Kavling Tanah dan “Sistem Navigasi” Unta Auto-Pilot

Kisah berdirinya Masjid Nabawi dimulai dari momen Hijrah yang sangat epik. Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah (yang saat itu masih bernama Yatsrib), suasana kota mendadak heboh. Ibarat kedatangan superstar paling ditunggu sejagat raya, semua orang Madinah (kaum Anshar) berlomba-lomba menawarkan rumah mereka untuk ditinggali oleh Sang Nabi.

“Tinggallah di rumah saya, ya Rasulullah! Kamarnya besar, kasurnya empuk, makanannya all you can eat!” Mungkin kira-kira begitu tawaran para sahabat dari kabilah Bani Najjar, Bani Salim, dan lain-lain. Mereka bahkan berebut memegang tali kekang unta Nabi yang bernama Qaswa.

Tapi, Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat bijaksana. Beliau tahu, kalau beliau memilih satu rumah, yang lain pasti akan baper maksimal (bawa perasaan). Jadi, apa yang beliau lakukan? Beliau menyerahkan keputusan pada “sistem navigasi Ilahi” alias membiarkan untanya yang memilih.

“Biarkan unta ini berjalan, karena ia telah mendapat perintah (dari Allah),” sabda Nabi.

Bayangkan adegan ini: Qaswa, sang unta, berjalan dengan santai melewati lorong-lorong Madinah, sementara ratusan pasang mata menatap dengan tegang layaknya menonton final Piala Dunia. “Ayo belok kiri, unta yang baik… ayo ke rumahku…” batin para sahabat.

Akhirnya, Qaswa berhenti dan menderum di sebuah tanah lapang tempat penjemuran buah kurma. Tapi Nabi tidak langsung turun. Qaswa kemudian bangkit lagi, berjalan sedikit, lalu kembali berputar dan menderum di tempat yang sama. Fix! Ini titik kordinatnya. Location locked.

Tanah itu ternyata milik dua anak yatim bersaudara, Sahl dan Suhayl, yang berada di bawah asuhan As’ad bin Zurarah. Ketika ditanya harganya, kedua anak yatim itu dengan gaya sultan yang sangat dermawan berkata, “Kami berikan saja untuk Anda di jalan Allah, wahai Rasulullah!”

Namun, Nabi menolak halus. Beliau tidak mau memanfaatkan kepolosan anak yatim. Akhirnya, tanah itu dibeli dan dibayar tunai oleh “Menteri Keuangan” umat saat itu, siapa lagi kalau bukan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

2. Kisah Sahabat: Kepanikan Estetik Abu Ayyub Al-Ansari

Setelah tanah ditentukan, muncul masalah baru: Di mana Nabi akan tidur selama masjid dan rumahnya dibangun?

Titik di mana unta itu berhenti ternyata paling dekat dengan rumah seorang sahabat bernama Abu Ayyub Al-Ansari. Dengan kecepatan setara sprinter Olimpiade, Abu Ayyub langsung mengangkat barang-barang bawaan Nabi ke dalam rumahnya. Dalam tradisi Arab, siapa yang barang tamunya ada di rumahnya, dialah yang berhak menjadi host. Abu Ayyub menang undian jackpot tanpa perlu ikut giveaway!

Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua lantai. Abu Ayyub dan istrinya bersikeras agar Nabi tidur di lantai atas demi penghormatan. Namun, Nabi yang humble-nya kebangetan, memilih di lantai bawah agar mudah menerima tamu yang pasti akan membeludak.

Di sinilah drama komedi berbalut cinta terjadi. Abu Ayyub dan istrinya tidur di lantai atas dengan perasaan insecure tingkat dewa. Mereka tidak berani berjalan di tengah ruangan karena takut debu atau kotoran jatuh menimpa Nabi di bawah. Mereka selalu berjalan mengendap-endap menempel di pinggir tembok seperti ninja.

Puncaknya adalah ketika sebuah kendi berisi air pecah di tengah malam. Air tumpah di lantai kayu! Kepanikan melanda. “Mati kita! Airnya bisa menetes ke kepala Rasulullah!”

Tahukah Anda apa yang mereka lakukan? Mereka mengambil satu-satunya selimut kain beludru yang mereka miliki (ingat, ini musim dingin!), dan menggunakannya untuk mengepel lantai agar airnya terserap secepat kilat dan tidak menetes ke bawah. Besok paginya, mereka kedinginan, tapi hati mereka hangat karena berhasil menyelundupkan rasa hormat yang luar biasa. Begitulah cinta para sahabat. Mereka rela kedinginan asal Nabi tidak kejatuhan setetes air pun.

3. Gotong Royong Kurma-Style: Membangun Masjid Tanpa Mandor Galak

Proses pembangunan Masjid Nabawi adalah contoh nyata dari teamwork yang bikin bos-bos korporat modern menangis iri. Tidak ada mandor yang cuma main tunjuk, tidak ada tender proyek, tidak ada korupsi bahan bangunan.

Masjid pertama ini spesifikasinya sangat eco-friendly. Fondasinya dari batu, dindingnya dari batu bata lumpur (tanah liat), tiang-tiangnya dari batang pohon kurma, dan atapnya dari pelepah daun kurma. Kalau hujan? Ya bocor sedikit, lantai tanahnya jadi becek. Sangat back to nature.

Yang membuat proyek ini luar biasa adalah tenaga kerjanya. Nabi Muhammad SAW tidak duduk ngopi di bawah pohon sambil menyuruh para sahabat bekerja. Beliau ikut mengangkat batu dan bata hingga bajunya berdebu. Melihat Nabi mereka berkeringat, semangat para sahabat auto-meledak. Mereka bekerja sambil bernyanyi (melantunkan syair) agar tidak terasa capek.

Ali bin Abi Thalib melantunkan syair yang memacu semangat: “Tidak sama orang yang sibuk memakmurkan masjid, yang bekerja keras sambil berdiri dan duduk… dengan orang yang hanya menghindar dari debu.”

Nabi juga membalas dengan syair: “Ya Allah, tidak ada kehidupan (yang hakiki) kecuali kehidupan akhirat. Maka rahmatilah kaum Anshar dan Muhajirin.”

Kisah Ammar bin Yasir Si Overachiever

Dalam proses gotong royong ini, ada satu sahabat yang kelakuannya bikin geleng-geleng kepala karena saking rajinnya. Namanya Ammar bin Yasir. Ketika para sahabat lain, karena kelelahan, mengangkut satu per satu batu bata, Ammar mengangkut dua batu bata sekaligus! Satu untuk dirinya sendiri, satu lagi dia niatkan pahalanya untuk Nabi.

Akibatnya, Ammar penuh dengan debu dari ujung kepala sampai kaki. Melihat kelakuan sahabatnya yang kelewat rajin ini, Nabi SAW tersenyum, menghampirinya, dan membersihkan debu dari kepala Ammar dengan tangan beliau yang mulia.

Nabi kemudian bersabda dengan nada yang penuh kasih sayang namun menyimpan nubuwat (ramalan masa depan): “Kasihan engkau, wahai Ibnu Sumayyah (Ammar). Engkau akan dibunuh oleh kelompok yang memberontak.” (Dan benar saja, puluhan tahun kemudian di masa kekhalifahan Ali, Ammar syahid dalam Perang Shiffin). Tapi di momen pembangunan masjid itu, Ammar adalah bintang lapangan yang energinya mengalahkan minuman berenergi merek apa pun zaman sekarang.

4. Keutamaan Masjid Nabawi: Promo Pahala Flash Sale Sepanjang Masa

Mengapa umat Islam begitu ngoyo ingin pergi ke Masjid Nabawi? Jawabannya ada pada sistem “penggandaan pahala” yang tidak masuk akal jika diukur dengan hukum ekonomi biasa.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang sangat sahih dan terkenal:

“Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama dari seribu kali shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram (di Makkah).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mari kita hitung-hitungan secara matematis ala orang modern. Jika Anda shalat 5 waktu di masjid dekat rumah Anda, pahalanya ya sebatas shalat berjamaah biasa (dikalikan 27 derajat jika berjamaah). Tapi, jika Anda shalat 1 kali saja di Masjid Nabawi, itu sama dengan Anda shalat 1.000 kali di masjid kampung Anda.

Bayangkan Anda ikut program Arbain (shalat 40 waktu berturut-turut tanpa putus di Masjid Nabawi) yang sering dilakukan jemaah haji atau umrah dari Indonesia. 40 waktu x 1.000 = 40.000 shalat! Kalau sehari semalam kita shalat fardu 5 kali, maka 40.000 shalat itu setara dengan Anda rajin shalat tanpa bolong selama 21 tahun 11 bulan!

Ini adalah promo Flash Sale akhirat yang tidak ada masa expired-nya. Diskon besar-besaran, pahala di-kali-lipat-kan secara brutal oleh Allah SWT. Tidak heran jika menjelang waktu azan, orang-orang sudah setengah berlari dari hotel menuju masjid, seolah-olah takut kehabisan doorprize. Dan memang, doorprize-nya adalah surga.

5. Raudhah: Karpet Hijau, Air Mata, dan Pertarungan Fisik

Jika Masjid Nabawi punya VVIP Lounge, maka namanya adalah Raudhah. Lokasinya sangat strategis, berada tepat di antara rumah Nabi (yang kini menjadi makam beliau) dan mimbar tempat beliau berkhotbah.

Keutamaan tempat ini dijelaskan langsung oleh Nabi:

“Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga (Raudhah min riyadhil jannah), dan mimbarku berada di atas telagaku.” (HR. Bukhari).

Secara visual, Raudhah sangat mudah dikenali. Jika seluruh karpet di Masjid Nabawi berwarna merah bata yang elegan, begitu Anda menginjak karpet berwarna hijau lumut yang cantik dengan motif bunga-bunga, selamat, Anda sudah check-in di taman surga.

Namun, booking tempat di Raudhah ini perjuangannya mengalahkan war tiket konser Coldplay atau K-Pop manapun. Di zaman dulu (dan kadang masih berlaku sekarang sebelum ada sistem aplikasi), masuk ke Raudhah adalah ujian kesabaran dan fisik. Anda harus rela berdesakan, sikut-sikutan halus, dan terhimpit di antara bapak-bapak raksasa dari Turki, paman-paman berbadan tegap dari Afrika, dan ibu-ibu lincah nan taktis dari Indonesia.

Di Raudhah, hukum fisika kadang tidak berlaku. Area yang kelihatannya cuma muat 100 orang, bisa dipaksa masuk 300 orang. Orang ruku’ menempel punggung temannya, orang sujud kepalanya pas berada di ujung jempol kaki orang di depannya. Tapi anehnya, tidak ada yang marah!

Begitu dahi Anda menyentuh karpet hijau itu, semua rasa pegal, terinjak, dan terdorong mendadak hilang. Yang ada hanya air mata yang tumpah tak terbendung. Sensasi beribadah berjarak hanya beberapa meter dari jasad manusia paling mulia sejagat raya menciptakan vibrasi emosional yang bisa meruntuhkan keangkuhan manusia paling keras kepala sekalipun. Di karpet hijau inilah, dosa-dosa ditangisi dan doa-doa dilangitkan dengan frekuensi paling tinggi. Sayangnya, karpet merah saat ini sudah diganti dengan karpet hijau secara total, sepertinya untuk menghindari hal hal yang membahayakan jamaah umroh maupun haji di masjid ini. Saat ini antrian masuk ke Raudhatul ini dilakukan secara digital yang tentu saja memudahkan kita untuk lebih mudah dan nyaman ke Roudhoh tanpa perlu berdesakan secara berlebihan.

6. Tiang-Tiang Legend yang Punya Cerita Bikin Merinding

Jika Anda masuk ke area lama Masjid Nabawi (area Raudhah dan sekitarnya), Anda akan melihat banyak tiang (pilar) yang berlapis marmer putih dengan ornamen emas. Tiang-tiang ini bukan sekadar penahan atap biar jamaah tidak kejatuhan genteng. Beberapa tiang punya nama dan sejarah yang luar biasa dramatis. Di antaranya:

  1. Tiang Hannanah (Tiang yang Menangis) Ini adalah kisah yang membuktikan bahwa benda mati pun punya perasaan jika berurusan dengan Nabi Muhammad SAW. Dulu, sebelum punya mimbar kayu, Nabi selalu bersandar pada sebatang pohon kurma yang sudah kering ketika berkhotbah di hari Jumat.

Seiring bertambahnya jemaah, seorang wanita Anshar mengusulkan agar dibuatkan mimbar kayu bertingkat tiga supaya Nabi bisa terlihat dari belakang. Nabi setuju. Ketika hari Jumat tiba, Nabi langsung naik ke atas mimbar kayu yang baru. Beliau meninggalkan batang kurma kering itu sendirian.

Tiba-tiba, seluruh masjid mendengar suara rintihan dan tangisan yang sangat menyayat hati, persis seperti suara unta betina yang merindukan anaknya. Dari mana suaranya? Ternyata dari batang pohon kurma yang ditinggalkan itu! Pohon itu menangis sedih karena tidak lagi disentuh dan dijadikan sandaran oleh Rasulullah untuk berzikir.

Suasana masjid jadi awkward sekaligus haru. Nabi Muhammad SAW kemudian turun dari mimbar, berjalan menghampiri batang kurma itu, lalu mengelus dan memeluknya sampai ia tenang, persis seperti menenangkan bayi yang rewel. Pohon itu baru diam setelah Nabi berjanji bahwa ia akan ditanam di surga dan buahnya akan dimakan oleh para kekasih Allah.

Moral of the story: Kalau kayu kering saja bisa menangis merindukan Nabi karena ditinggal ngaji sebentar, masa kita yang dikasih hati yang berdetak dan smartphone canggih malah asyik scroll TikTok pas denger selawat? (Tepuk jidat berjamaah). Tiang tempat pohon itu dulu berada kini ditandai dan disebut Ustuwanah Hannanah.

  1. Tiang Aisyah (Tiang Undian) Dinamakan Tiang Aisyah karena Siti Aisyah RA pernah membocorkan sebuah rahasia. Beliau berkata, “Ada sebuah tempat (tiang) di masjid ini, yang seandainya orang-orang tahu betapa besar pahala shalat di dekat situ, niscaya mereka akan rela mengundi (narik arisan) untuk bisa shalat di situ.” Tiang ini juga disebut Ustuwanah Muhajirin karena dulu para sahabat Muhajirin suka ngumpul di dekat situ.
  2. Tiang Taubah (Tiang Abu Lubabah) Ini kisah tentang seorang sahabat bernama Abu Lubabah yang merasa melakukan “blunder” besar (membocorkan rahasia negara ke musuh secara tidak sengaja). Saking menyesal dan merasa berdosanya, Abu Lubabah mengambil rantai, berjalan ke masjid, dan mengikat dirinya sendiri di salah satu tiang!

Dia bersumpah tidak akan makan, minum, atau melepaskan ikatannya sampai Allah sendiri yang menurunkan wahyu bahwa tobatnya diterima, atau sampai dia mati kelaparan. Istrinya hanya datang untuk melepaskan ikatannya saat waktu shalat atau buang air, setelah itu dia minta diikat lagi.

Tujuh hari tujuh malam dia terikat, sampai akhirnya tubuhnya lemas, matanya sayu, dan hampir pingsan. Akhirnya, turunlah ayat (Surat At-Taubah ayat 102) kepada Nabi pada waktu Subuh yang mengabarkan bahwa Allah telah menerima tobat Abu Lubabah. Saat orang-orang mau melepaskan ikatannya, Abu Lubabah menolak. “Tidak! Biarkan Rasulullah sendiri yang melepaskannya dengan tangannya yang mulia!” kata Abu Lubabah dengan sisa-sisa tenaganya. Nabi pun melepaskannya saat keluar untuk shalat Subuh. Tiang tempat dia diikat itu kini dikenal sebagai Ustuwanah Taubah, tempat yang sangat mustajab untuk memohon ampunan (menangisi dosa-dosa).

7. Transformasi Super Mewah: Dari Pelepah Kurma Jadi Payung Transformers

Masjid Nabawi terus mengalami perluasan dari masa ke masa. Dimulai dari zaman Umar bin Khattab yang menambah sedikit area, Utsman bin Affan yang mulai mengganti dinding bata lumpur dengan batu ukir dan atap kayu jati, lalu dinasti Umayyah, Abbasiyah, Mamluk, Utsmaniyah (Ottoman), hingga puncaknya pada masa Kerajaan Arab Saudi.

Transformasi Masjid Nabawi hari ini benar-benar bikin jaw-dropping (mulut menganga). Kerajaan Saudi tidak main-main dalam memuliakan tamu-tamu Nabi. Luas masjid yang awalnya cuma sekitar 30×35 meter (seukuran lapangan basket lebih dikit), kini luas area bangunan dan pelatarannya menembus lebih dari 400.000 meter persegi! Bisa menampung lebih dari 1 juta jamaah sekaligus.

Beberapa fasilitas modern yang sering bikin jemaah dari kampung halaman takjub sampai lupa zikir sebentar:

8. Tragedi “Sandal Ghaib” dan Pelajaran Melepas Duniawi

Berbicara tentang sejarah dan kemegahan Masjid Nabawi tidak akan lengkap tanpa menyinggung fenomena mistis modern yang dialami 90% jemaah haji dan umrah: Hilangnya Sandal di Pintu Masjid.

Masjid Nabawi memiliki puluhan pintu raksasa (Gate) yang bentuknya hampir mirip semua. Warnanya sama, kaligrafinya sama, ornamen kayunya sama. Hanya ada nomor kecil di atasnya, misalnya Gate 15, Gate 21, Gate 338.

Di sinilah letak komedinya. Seorang jemaah pemula biasanya datang dengan sangat pede, melepas sandal kesayangannya di rak sepatu dekat pintu masuk nomor 21. Dia masuk, shalat berjam-jam, berdoa sambil menangis. Selesai shalat, dia keluar mengikuti arus lautan manusia… dan jreng jreng, dia keluar dari Gate 25 tanpa sadar!

Berdirilah ia di pelataran yang asing, menatap rak sepatu yang berbeda, mencari sandal yang tidak pernah ada di sana. Sandalnya tidak dicuri, sandalnya beristirahat dengan tenang di Gate 21, sementara dia ngomel-ngomel di Gate 25 menyalahkan konspirasi pencurian alas kaki internasional.

Akhirnya, dengan langkah gontai dan kaki telanjang yang kepanasan menginjak lantai marmer (untung marmer pelatarannya menyerap dingin!), ia berjalan pulang ke hotel bak seorang pendekar yang kalah perang.

Di balik kelucuan tragedi sandal ini, banyak ulama yang tersenyum dan mengambil hikmah: Ini adalah latihan melepaskan urusan duniawi. Kalau kehilangan sandal jepit atau sepatu kulit seharga beberapa ratus ribu saja bisa merusak mood ibadah kita, bagaimana kita bisa ikhlas melepaskan harta yang lebih besar kelak? Sandal hilang adalah sedekah paksa yang melatih keikhlasan instan di Tanah Suci. (Tentu saja, tips profesionalnya adalah: bawa kantong kresek, masukkan sandal Anda, dan bawa ke dalam masjid taruh di sebelah tempat sujud. Aman, damai, sentosa).

9. Penutup: Merindukan Sebuah Kepulangan

Membicarakan sejarah Masjid Nabawi tidak akan pernah ada habisnya. Setiap jengkal karpetnya pernah bersentuhan dengan dahi manusia-manusia pilihan. Setiap sudut udaranya pernah menggetarkan lantunan ayat suci dari bibir Rasulullah, para sahabat, dan para ulama besar lintas zaman.

Masjid Nabawi mengajarkan kita banyak hal. Dari tanah kosong milik dua anak yatim, diubah dengan keringat gotong royong seorang manusia paling agung, menjadi pusat peradaban yang cahaya hidayahnya menerangi seluruh dunia. Dari tiang kayu yang menangis merindukan sentuhan, hingga teknologi payung raksasa yang menaungi umat dari sengatan matahari.

Ini bukan sekadar tempat wisata religi. Pergi ke Masjid Nabawi pada hakikatnya adalah perjalanan pulang. Pulang untuk bertamu ke rumah ayah spiritual umat Islam, Rasulullah Muhammad SAW. Berdiri di depan makam beliau, mengucapkan “Assalamu’alaika ya Rasulullah” secara langsung tanpa perantara, adalah puncak romantisme seorang hamba kepada Nabinya.

Semoga, Anda yang membaca tulisan ini, yang mungkin sedang tersenyum membayangkan kelucuan drama sandal hilang atau kepanikan Abu Ayyub yang mengepel air tumpah dengan selimut beludru, segera mendapat panggilan VIP dari Allah SWT. Semoga Allah memampukan langkah, dompet, dan fisik kita semua untuk bisa segera sujud di Raudhah, bersandar di tiang-tiang sejarahnya, dan menangis di sana. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Exit mobile version